Gemar Berbagi Bahagiakan Jiwa

Posted by Pejalan Kaki , Tuesday, April 2, 2013 4/02/2013 09:10:00 PM

Hari ini, kita telah sampai pada tanggal dua April tahun dua ribu tiga belas. Ha? Sungguh cepat waktu bergulir. Sedangkan kita, apakah yang kita lakukan dalam perguliran waktu yang terus melaju ini, teman? Dan masih ingatkah kita pada berbagai rencana dan jadual yang kita telah rancang sedemikian rupa, jauh-jauh hari sebelum hari ini hadir? 

Pitri Meiyanti. Adalah nama salah seorang temanku di kota ini. Kota yang menyambutku dengan ramah senyumannya saat pertama kali aku menginjakkan kaki di atas tanahnya. Pun kota ini menjadi salah satu kota terdingin yang pernah aku temui di sepanjang hayatku di dunia ini. Dan di kota inilah kami bertemu, bersama dan berjuang untuk melanjutkan cita dalam merengkuh asa. Kota Bandung tercinta, akan ku kenang ia sebagai bagian dari perjalanan kehidupanku yang berwarna. Sesuai dengan namanya, kota kembang. Sungguh banyak jenis kembang beraneka rupa yang ia selipkan di relung hatiku. Kembang yang mensenyumkanku saat mengingatkannya. 

Beliau, seorang teman yang semenjak awal berjumpa, sangat menarik perhatianku. Beliau yang saat pertama kali melihat, aku menjadi terkesan. Entah mengapa? Sungguh aku masih bertanya-tanya. Seorang perempuan yang hingga saat ini, akhirnya menjadi bagian dari kisah perjalanan kehidupanku. 

Di sepanjang waktu yang kami jalani bersama, banyak kesan yang beliau selipkan kepadaku. Pun banyak pula pesan-pesan baik tersurat maupun tersirat yang ku dapatkan dari beliau. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Intinya, dalam kebersamaan dengan Teh Mey, begini aku akrab menyapa beliau, aku merasa seorang yang sangat beruntung. Aku merasa beruntung karena Allah izinkan untuk bertatap dengan pribadi selayak beliau untuk pertama kali. Aku pun akhirnya berkenalan dengan beliau, setelah beberapa kali kami bersua. Ah, perkenalan pertama, tidak banyak yang aku ingat. Hanya saja, kesan terindah yang tidak akan pernah aku lupakan dari beliau adalah tentang kedermawanan. Wah! Betul, temanku yang seorang ini, sungguh baik budinya. Ramah, sopan dan membuatku terkagum. 

"Aku ingin meniru meneladani berbagai karakter yang membuatku tertakjub dan terpesona. Dan aku ingin meniti jejak-jejak yang beliau tinggalkan, saat aku mempunyai kesempatan untuk memperhatikan kisah perjalanan beliau. Dan ketika kesempatan untuk menjadi teman dalam perjalanan itu telah datang, maka alangkah bahagianya di dalam jiwa. Rasanya, ku ingin teriakkan pada mentari malam ini, bahwa aku sangat bahagiaaaa... aaaaaaa Sampaikanlah segala nuansa yang kita punya. Baik tentang bahagia pun yang sebaliknya, tepat pada saat kita menjalaninya. Agar, kita menjadi tahu setelahnya, bahwa kita pun pernah alami kondisi serupa. Ya, luahkan saja."

Dan malam ini, ketika mentari belum lagi bersinar di bagian bumi tempatku berada, aku sedang mengharapkan pertemuan dengannya. Pertemuan yang semenjak lama telah kami janjikan. Pertemuan yang hanya kami jalani dengan senyuman yang terus berangkaian. Dan malam ini, dalam senyuman yang menempel pada area wajahku, ingin sangat ku perlihatkan pada mentari nun yang saat ini tentu saja masih jauh dariku. Wahai mentari, perhatikanlah, bahwa aku sedang mempraktikkan pula rangkaian senyuman yang pernah engkau teladankan dulu. Rangkaian senyuman yang hampir setiap hari engkau perlihatkan kepadaku, tiada henti. Engkau bersinar, untuk mengajariku bagaimana cara tersenyum lebih indah, secerah senyumanmu. 

Aku tersenyum tentu karena aku sedang berbahagia. Pun senyumanku terkadang hadir ketika aku sedang bertanya-tanya. Dan tidak jarang pula senyuman itu menebari  wajah ini, ketika aku sedang dalam nuansa tidak percaya dengan apa pun yang sedang aku jalani tepat detik ini. 
Aku masih belum percaya. Belum, belum saja. Dan semoga beberapa saat setelah ini aku menjadi percaya dan mengiyakan apa yang pernah aku urai di dalam pikiran. Bahwa setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita tebarkan, sesungguhnya sedang kita berikan kepada diri kita terlebih dahulu. Dan buktikanlah!

Awalnya aku memang mengenal Teh Mey sebagai seorang yang kalem, dan terlihat pendiam. Namun ternyata di balik penilaian yang aku berikan pada saat kami belum bersapa, sungguh lebih adanya. Karena ternyata, Teh Mey teman baikku, bahkan lebih dari bijaksana sebagaimana yang aku pikir. Beliau dewasa dalam bersikap, pun tertata dalam berucap. Walaupun terkadang ada canda yang terselip dalam detik waktu kebersamaan kami, namun semua itu ada sebagai penghias persahabatan. Dan beliau adalah salah seorang sahabatku, yang pada malam ini, kembali membuatku terpesona. Terpesona bukan karena kami sedang saling bertatap mata dalam pertemuan raga. Namun terpesonaku karena beberapa baris kalimat yang beliau selipkan padaku, ketika kami sedang membuka suara. Ahaaa.a. .a..a.a. ada-ada sajaaa, yaaa. Tiba-tiba Teh Mey memberiku angka-angka yang tidak pernah aku dua. Yah, walau tidak banyak jumlahnya, namun aku sungguh bahagia. Ahayyy... Terima kasih ya, Teh Mey. Lain waktu kita berbagi lagi, yaa. 
Aku ingin meneladani pribadi yang gemar berbagi. Pribadi yang membuatku segera ingat akan janji-janji yang pernah aku ikrarkan pada diriku sendiri. Janji yang membuatku segera menepatinya. Dan salah satunya adalah aku berjanji untuk menjadi diriku sendiri. Diri yang sebagaimana aku saat ini. Dan aku ucapkan terima kasih pada beliau-beliau yang sebelum saat ini pernah ada dan menjadi bagian dari kehidupanku, terima kasih yaa. Karena tanpa peran beliau, aku belum tentu dapat menjadi seperti ini, di sini dan begini. Sungguh, aku berhutang budi. Hutang yang bisa saja tidak dapat ku balas lagi. Namun ia akan ku bawa sampai mati. Iya, ... sebagaimana sebuah kalimat indah ini menyampaikan "Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati."

Harta yang kita miliki boleh melimpah, namun semoga kita senantiasa ingat, bahwa di dalam harta kita yang melimpah itu, ada hak-hak orang lain di dalamnya. Maka bagikanlah, segera. Begitu pula dengan budi yang kita jelas memilikinya. Jadikanlah ia sebagai salah satu jalan bagi kita untuk mengeluarkan budi-budi dari orang lain. Agar, banyak dan semakin banyak lagi orang-orang yang berbudi di dunia ini. Karena kita tidak dapat selamat sendiri di dalam menempuh perjalanan di dunia ini. Bukankah kita ingin selamat bareng-bareng, yaach..
Atas budi baikmu teman, ingin ku jadikan ia sebagai penasihat diri...
Atas titipan hartamu teman, ingin ku jadikan ia sebagai pengingat diri...
Bahwa di dalam harta kita ada harta orang lain. 
Dan kita tidak berhak seluruhnya atas harta tersebut. Semoga kita sudi, untuk seringkali berbagi.  
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7